Tiada Air, Minyak Tanah pun Jadi


Cerpen berikut ini pernah saya publikasikan rame-rame di salah satu self-publishing sekitar 2 tahun yang lalu. Mohon komen/kritik/saran dari kawan-kawan pembaca, baik itu dari segi penulisan, alur, dll…🙂

***

“Plaaakkk…!!!” Hantaman spidol whiteboard tepat di jidat membuatku gelagapan dan terbangun seketika. Buyar deh mimpi indahku di siang bolong. Secepat kilat kuperbaiki posisi duduk sambil mengucek mata.

“Kamu habis narik becak ya, Man!” Suara dosenku menggelegar seantero kelas.

“Maaf, Pak.” Jawabku sembari tertunduk, gak mungkin kan aku menatap matanya… hehehe.

“Kamu boleh melanjutkan tidur di luar!” Perintahnya kemudian sambil menunjuk pintu. Untung pintu… kalau jendela bisa repot saya keluarnya.

Saya sebenarnya mau protes, sudah dibangunkan secara seksama dengan cara sedemikian rupa dalam tempo seketika malah disuruh keluar kelas. Mana ngantuknya sudah hilang entah kemana lagi. Tapi, memang saya yang salah sih.

“Maaf, Pak!” Ucapku sekali lagi sambil berlalu keluar.

Kalau begini caranya, tobat dah begadang kalau ada kuliah pagi. Sebenarnya saya jarang-jarang sih begadang, malah bisa dibilang jarang banget. Kecuali semalam, karena ada kawan dari kampung yang ngajak ke Pantai Losari. Sampai di kosan hampir jam dua dini hari, sementara kuliah jam delapan pagi.

“Huuuaaaa……” kena angin ngantuknya datang lagi. Ampun dah…

“Ke mana nih, melanjutkan tidur.” Pikirku. Matahari sudah mulai terik, padahal baru sekitar jam sembilan pagi. Kerongkongan kering pula, lengkaplah sudah. Tidur di himpunan tidak mungkin, pasti banyak orang mondar-mandir. Gak mungkin pulas. Pulang ke kosan… panas begini? Mana ngantuk… kerongkongan kayak dicekik… perut keroncongan…

“Apa makan dulu ya di kantin.” Batinku lagi sembari merogoh kocek. Jiaaa… doku tinggal tiga puluh ribu, mana kiriman masih seminggu lagi baru datang.

“Pulang ke kosan aja ah.” Putusku kemudian.

***

Kosanku sebenarnya bukan tempat ideal untuk tidur di siang hari. Gak cocok disebut kamar, tapi oven. Bayangin aja, dari enam sisi, tiga sisi di antaranya adalah seng. Yup… seng yang biasa buat atap. Kebetulan kamarku di hook, kayak perumahan aja… Jadinya kebagian dinding seng sebelah depan dan samping, plus atap jadi tiga kan…

Sekilas tentang kos-kosanku… Bangunannya model rumah Bugis-Makassar pada umumnya, rumah panggung. Hanya yang ini, bagian bawahnya pun disulap menjadi beberapa kamar. Dinding sekelilingnya seng, makanya di siang hari berubah fungsi jadi oven… hehehe. Total kamar 24, tapi yang disewakan hanya 22 kamar aja, dua kamar lainnya dijadikan satu dan ditempati saudara yang punya kosan yang juga menjabat Ibu kosan.

Kamar mandi ada dua untuk semua penghuni, demikian juga dengan toiletnya. Tak heran, antrian toilet dan kamar mandi di pagi hari kadang-kadang mengalahkan antrian mobil di jalur menuju puncak. Tak jarang manager kosan terpaksa menerapkan sistem buka-tutup untuk mengurai kemacetan… wkwkwkwk…..

Adegan ala film India pun bukan lagi pemandangan baru di sela-sela antrian. Menahan bom memang lebih mudah dilakukan dengan menyilangkan kaki sambil memeluk tangga kos-kosan.

“Woooiiii…!!! Buruan…, sudah di ujung tanduk nih…” Teriakan seperti ini sudah lazim di telingaku. Karena kamarku adanya di lantai dua paling ujung, jadi lokasi toilet persis di samping bawah kamarku.

Begitulah kos-kosanku dengan segala fasilitas yang secukupnya. Tapi, ya sebandinglah dengan harganya yang 250 ribu rupiah saja setahun. Setahun lho ya… bukan sebulan. Di Jakarta mana ada, sebulan aja segitu mungkin gak dapat.

***

“Hufff….” Aku berhenti sejenak, menyeka keringat dan memeriksa jidat. Takut hantaman spidol tadi masih berbekas. Jarak dari kampus ke kosan sebenarnya tidak jauh, ya… waktu tempuhnya sekitar sepenanak nasilah. Pusingkan… kayak cerita pendekar aja. Sekarang kan sudah ada kompor gas, belum lagi kalau masaknya pakai microwave, waktu menanak nasinya kan beda-beda. Lho…, kok malah dibahas sih… hehehe.

Dari kampus ke kosan hanya sekitar 15 menit berjalan kaki santai. Kalau lari ya bisa lebih cepat, apalagi kalau larinya sprint. Tapi, di bawah sinar matahari yang terik begini butuh waktu lebih lama lagi. Soalnya aku suka berhenti dulu berteduh baru kemudian melanjutkan perjalanan.

Pemandangan di jalan terbilang lumayanlah, menyusuri setapak yang sudah di-conblock. Samping kiri-kanan jalan dipenuhi kos-kosan berjejer rapi dengan berbagai pemandangan. Mulai dari jemuran handuk hingga dalaman, yang terakhir ini pemandangan favorit saya… wkwkwkwk… Juga banyak warung-warung makan yang menawarkan berbagai menu makanan dengan harga ekonomis sesuai kantong mahasiswa. Tapi, karena duit cekak aku meneruskan langkah saja sambil menelan ludah dan menghirup dalam-dalam aromanya.

Menahan selera di akhir bulan bukan hal baru lagi buatku. Untungnya ada Ibu kosan yang masih bisa ditempati utang makanan. Mulai dari indomie hingga minyak tanah untuk masaknya. Bahkan, kadang-kadang saya numpang masak indomie di bawah. Tidak jarang aku ditawari nasi putih beserta lauknya yang kusambut dengan tangan terbuka dan penuh dengan suka cita. Sungguh kebaikan yang bakal terkenang sepanjang masa.

Karena sering makan di bawah, tidak segan-segan jika datang kiriman beras atau ikan kering dari kampung, sebahagiannya saya hibahkan ke Ibu kosan.

***

Akhirnya… sampai juga… Kulangkahkan kaki ke kamar Ibu kosan. Mau ke atas pasti panas banget, lagipula tidak setetes pun air di atas padahal kerongkongan sudah seperti terbakar. Galon sudah tiga hari ini belum kuisi juga. Tidak sempat, sebuah alasan klasik untuk menutupi kemalasanku mengangkat galon dari warung depan.

“Aaaa….” gumamku sambil tersenyum lebar menyaksikan sebuah aqua botol besar berisi air hampir penuh di atas meja. Kebetulan pintu terbuka lebar, entah kemana beliau. Akupun duduk di kursi dan menenggak air minum di atas meja langsung dari botolnya.

Belum sempat mencapai kerongkongan, tergopoh-gopoh kugapai pintu dan menyembur setenggak air keluar dari mulutku.

“Rasanya seperti sesuatu yang kukenal…” Batinku sambil memandang sisa air yang masih kupegang.

Baru saja mau duduk lagi, tiba-tiba dari belakang ada suara, “Maaf Kak, itu minyak tanah saya ketinggalan”. Rupanya salah satu penghuni kosan.

“Haaaahhh…!!!” Teriakku spontan, “Pantas saja…”

“Kenapa, Kak?” Tanyanya heran.

“Tidak apa-apa… Minyak tanahmu sedikit berkurang, saya kehausan tadi” Jawabku sambil menyerahkan botol ke arahnya.

“Haaaahhh…!!!” Gantian dia yang teriak.

***

Nah, bagaimana kesannya para pembaca?

Perlu diingat, saya adalah mahasiswa baik-baik yang diajar oleh dosen baik-baik. Jadi, adegan pembuka adalah fiktif belaka…😀

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in Cerpen and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s