Buta Politik


“Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir semua pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional” ~ Bertolt Bracht, penyair Jerman

Kalimat di atas adalah kutipan dari seorang penyair Jerman, Bertolt Bracht. Saya temukan secara tidak sengaja ketika sedang membaca twit following saya di twitter.


Pemilu legislatif tinggal berbilang hari lagi. Pemilu untuk memilih wakil-wakil rakyat mulai DPR, DPRD, hingga DPD ini akan digelar 9 April 2014. Demikian juga halnya pemilihan presiden beberapa bulan kemudian. Masing-masing kita tentu sudah punya pilihan atau paling tidak perkiraan siapa yang akan dipilih di dalam bilik suara kelak. Atau mungkin sudah memantapkan pilihan untuk tidak memilih alias golput. Menurut sebagian orang, golput juga sebuah pilihan. Mungkin karena tidak ada pilihan yang pas atau anggapannya siapapun yang terpilih tidak akan memperbaiki situasi.

Anggapan itu sah-sah saja dan itu adalah hak masing-masing orang untuk memilih tidak menyalurkan haknya. Dan melewatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam memperbaiki bangsa ini.

Jika Anda benci korupsi, ayo pilih wakil rakyat yang menurut Anda bersih dan jujur. Jika Anda ingin koruptor dibasmi dari negeri ini, jangan memilih wakil rakyat yang sekiranya akan mencari cara dan celah untuk melemahkan KPK. Jika Anda ingin pembangunan infrastruktur yang berkualitas, ayo pilih wakil rakyat yang tidak suka menyunat anggaran pembangunan. Jika Anda ingin bangsa yang disegani oleh negara-negara tetangga, mari kita pilih pemimpin yang tegas dan mengayomi rakyatnya.

Memang tidak mudah melakukannya, karena butuh pengetahuan dan mental kebal serangan fajar. Tidak mudah terkecoh oleh slogan yang terpampang manis di baliho, spanduk, brosur, dll, tapi memilih berdasarkan hati nurani dan kualitas pribadi. Itulah sebabnya harus melek politik atau paham politik. Sehingga tidak mudah diombang-ambingkan janji manis calon wakil rakyat dan pemimpin yang hanya manis sebelum pemilu dan lupa setelahnya.

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s