Oleh-oleh Jogja


Sabtu kemarin, saya kembali menjejakkan kaki di Jogja. Bukan untuk berwisata, tapi kuliah. Sebagaimana yang telah diprogramkan oleh jurusan, setiap bulannya program Magister Petroleum Geoscience, UGM, kelas Jakarta, dijadwalkan ada kuliah di kampus Yogyakarta. Agar lebih mengenal kampus, begitu alasannya.

Fika, anak saya, sebenarnya sempat protes.

“Ayah sudah gede kok masih sekolah?” tanyanya.

“Biar Ayah tambah pintar,” jawab saya.

Mendarat di Jogja sekitar pukul 08.30 pagi, saya memilih naik TransJogja untuk menuju kampus UGM. Hampir salah naik gegara tidak mencermati jalur-jalur TransJogja. Alhasil, saya hampir naik jalur IA arah Prambanan. Untunglah ada announcer yang menyebutkan kalau bus yang masuk itu arah sana.

Setelah menanti beberapa menit, datang bus jalur IIIA yang melewati kampus UGM. Setelah hampir salah naik, kali ini saya salah turun. Gara-garanya salah dengar Geologi, padahal Biologi. Berbekal jurus tanya sana-sini, bisa juga akhirnya sampai di gedung Geologi dengan sedikit bermandikan keringat.

Sambil menunggu dosen datang, saya dan beberapa kawan isi energi dulu dengan gudeg di warung samping kampus.

Gudeg

Gudeg

Setelah jam istirahat, ada waktu luang sekitar 2 jam karena ada ujian sidang mahasiswa mendadak. Jadilah waktu itu dipakai untuk pelesiran sekitar kampus. Kebetulan 4 orang kawan sewa motor dan kami berdelapan, pas sekali.

Target pertama adalah Jogist – Kaos Gila yang sempat terdeteksi posisinya ketika saya naik bus tadi pagi. Lokasinya di jalan Kaliurang, tidak lama ditempuh dengan sepeda motor dari kampus. Saya membeli 3 kaos di tempat ini.

Kaos Jogist

Kaos Jogist

Tak jauh dari Jogist, ada gudeg Yu Jum. Seorang kawan membeli oleh-oleh gudeg yang disimpan dalam kendi. Dari situ, kami memutuskan untuk nongkrong sejenak di Kalimilk yang juga bersebelahan dengan Jogist. Di tempat ini ada berbagai macam minuman yang berasal dari susu.

Sekitar jam 5 sore, saya bareng Andri menuju stasiun kereta untuk kembali ke Jakarta. Di stasiun, saya sempat membeli oleh-oleh Bakpia. Dari rekomendasi beberapa teman, saya memilih Bakpia Kurnia Sari. Katanya sih lebih besar dan teksturnya lebih lembut. Dan memang benar, hanya saja lebih mahal. Ya, ada rasa ada hargalah.

Bakpia Kurnia Sari

Bakpia Kurnia Sari

Sampai jumpa di kuliah semester berikutnya…😀

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in Jalan Jalan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s