Dari Gesek Aja Hingga Tempel Aja


Dahulu kala, sebelum uang dikenal, orang melakukan jual beli dengan sistem barter atau tukar-menukar. Saya masih sempat mengalaminya ketika masih kanak-kanak di kampung Om. Jika hari pasar, Om dan Tante akan membawa tomat hasil kebunnya untuk ditukarkan dengan cabe. Membawa pisang, kelapa, atau beras untuk ditukarkan dengan ikan atau garam. Jadi, bukan hanya angkutan dari pasar saja yang penuh barang. Yang dari rumah pun sudah dipenuhi barang-barang untuk ditukarkan.

Saya tidak tahu apakah cara itu masih dipakai sekarang. Terakhir saya ingat di pasar sudah ada pengumpul. Jadi, barang-barang yang dibawa dari rumah seperti kelapa, beras, atau pisang sudah ada pembelinya. Setelah barang itu terjual barulah dipakai untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Bayangkan jika uang tidak pernah ditemukan, seberapa banyak tomat yang harus ditukarkan untuk sebuah rumah di pinggir Jakarta?😀

Bekerja di Jakarta membuat saya mengenal berbagai cara pembayaran. Yang paling keren adalah kartu kredit. Tanpa harus mengeluarkan uang bisa beli ini itu, kan tinggal gesek aja. Meskipun nantinya pusing juga saat harus bayar tagihannya. Semakin banyak kartu dari berbagai bank berderet rapi di dompet rasanya semakin keren. Kadang-kadang berguna sih, misalnya ketika makan di restoran. Biasanya sebelum makan atau bayar tanya dulu, kartu apa yang ngasih diskon. Atau kartu apa yang memberi diskon paling besar. Lumayan kan bisa hemat beberapa ribu rupiah. Padahal, kalau telat bayar, denda sama bunga bulanannya malah lebih besar dari diskonnya… Hehehe.

Dari tinggal gesek, sekarang ada lagi model pembayaran yang baru yaitu e-money dan sejenisnya yang pemakaiannya cukup ditempel saja. Bisa dipakai buat bayar tol, belanja, dll. Bedanya, kalau kartu kredit kita utang dulu sementara e-money ini kita masukkan dulu uangnya baru bisa tinggal tempel.

Kartu ini memang sangat memudahkan karena tidak perlu menyediakan uang tunai atau ngantri panjang saat bayar tol. Tinggal tempel dan beres. Isi ulangnya pun gampang. Tinggal datang ke ATM, tempel, pencet-pencet, dan beres.

Segala macam kartu pembayaran yang kesannya memudahkan, kalau menurut saya malah membuat kita semakin konsumtif. Membuat begitu mudahnya kita membelanjakan uang, karena kita tidak melihat secara fisik gepokan uang itu berpindah tangan. Apalagi jika menyusahkan kemudian saat akan membayar tagihan atau isi ulang. Jadi, saran saya bijaklah dalam hal ini. Boleh saja punya banyak kartu kredit, e-money, dan sejenisnya yang penting bisa mengontrol penggunaannya sesuai kemampuan dan keperluan. Kalau perlu biarkan saja mereka berderet rapi di dompet tanpa perlu dikeluarkan untuk digesek atau ditempel…😀

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in RupaRupa and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s