Mengapa Bangsa Indonesia Tertinggal oleh Bangsa Barat?


Melihat kemajuan bangsa-bangsa di belahan barat bumi kita ini, mungkin ada yang pernah bertanya-tanya mengapa mereka bisa lebih maju dari kita? Padahal, kita berada di bumi yang sama dan waktu yang sama. Bukan cuma kita yang hidup di jaman sekarang ini, bahkan nenek moyang kita pun jauh ketinggalan dengan mereka. Makanya, saya terkadang menyalahkan nenek moyang untuk ketertinggalan kita.

Lihat saja bangunan bersejarah Colosseum yang berada di Roma, Italia, selesai dibangun sekitar tahun 80-an masehi. Bayangkan betapa majunya mereka saat itu sehingga sudah mampu mendirikan bangunan yang besar dan megah di jamannya. Di Indonesia, Candi Borobudur selesai dibangun sekitar 800-an masehi. 700 tahun lebih kemudian baru bangsa Indonesia mampu membangun bangunan besar dan megah. Wajar saja kalau ada yang mengatakan bahwa kemajuan bangsa barat saat ini akan bisa kita capai juga 100 tahun ke  depan. Apa benar kita memang setertinggal itu? Mengapa?

Pada salah satu sesi presentasi di booth IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) pada IPA Convention, saya menemukan pencerahan. Presentasi dibawakan oleh Dr. Andang Bactiar tentang Katostropik Purba, tapi saya tidak akan menulis keseluruhan isi presentasi beliau. Saya hanya akan membahas salah satu bagian yang menjawab pertanyaan di atas.

Kita tentu sudah mengerti jika Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, merupakan jalur gunung api yang memiliki sekitar 500 gunung berapi dan 129 diantaranya masih aktif. Juga merupakan negara dengan garis pantai terpanjang di dunia dengan potensi tsunami yang sangat besar.

Dalam presentasi beliau disebutkan bahwa catatan sejarah Indonesia yang ada dimulai sekitar abad ke-4. Sebelum itu tidak atau belum ditemukan bukti-bukti sejarah. Mengapa, kemungkinannya masih terkubur dan belum ditemukan. Ini wajar mengingat seringnya terjadi bencana gempa, gunung meletus, ataupun tsunami di negeri ini. Ini pula yang dapat dijadikan alasan mengapa kita tertinggal dari bangsa barat. Bayangkan saja, di suatu tempat dahulu kala di negeri ini, sudah memiliki kebudayaan dan teknologi yang cukup maju tiba-tiba peradaban itu dikubur oleh letusan gunung api atau disapu oleh tsunami. Yang selamat hanyalah yang kebetulan sedang tidak berada di tempat, mungkin lagi berdagang ke kerajaan lain atau keperluan lainnya. Daerah yang sudah maju 300 tahun misalnya terpaksa harus mundur lagi sekian ratus tahun ke belakang. Dan kejadian ini menjadi siklus atau terjadi berulang-ulang.

Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, arsitektur, dll harus mundur lagi akibat ahli-ahlinya banyak yang ikut terbenam oleh bencana. Berbeda halnya dengan dunia barat yang relatif stabil dari bencana. Yang menyebabkan kemunduran kemungkinan hanya perang yang dampaknya tidaklah semundur akibat bencana alam. Jadi, ilmu pengetahuan mereka diwariskan dan berkembang secara terus-menerus.

Jadi, tidak perlu berkecil hati jika melihat peninggalan-peninggalan budaya bangsa barat yang kelihatannya begitu maju dibanding bangsa Indonesia. Begitu pula dengan kemajuan teknologinya. Dengan bekerja keras, terus meningkatkan ilmu pengetahuan dan mengasah keterampilan, kita juga bisa maju seperti mereka. Sebagian (kecil) dari kita sudah membuktikannya bukan…???

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in RupaRupa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s