Pengalaman Tertipu Calo Bus


Ilustrasi Terminal Bus

Matahari sedang terik-teriknya ketika kapal PELNI yang kutumpangi merapat di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Setelah sukses melewati desak-desakan penumpang, akhirnya sampai juga di darat. Tapi, Iqbal belum juga menjawab SMS yang saya kirim beberapa saat sebelum merapat. Jangan-jangan dia tidak bisa menjemput karena lagi sibuk, padahal saya tidak tahu mesti naik apa dari pelabuhan ke kampus ITS Sukolilo.

Taksi memang ada, namun itu tentu bukan pilihan menarik buat mahasiswa seperti saya dengan ongkos jalan pas-pasan. Untungnya ada masjid tidak jauh dari pelabuhan, ke sanalah kaki saya melangkah. Tidak lupa SMS kembali saya layangkan ke Iqbal untuk menyampaikan kedatangan saya. Ransel besar di pundak yang makin lama makin berat saja rasanya saya letakkan begitu saja di teras masjid dan langsung memesan satu gelas es dawet.

Belum selesai es dawet pesanan saya Iqbal menelepon, mengabarkan kalau ia baru saja membaca SMS saya dan tidak bisa menjemput karena sedang persiapan untuk acara wisudanya minggu depan. Tapi, ada temannya yang bisa menjemput. Tanda-tandanya ia akan memakai jaket himpunan berwarna biru. ETA alias kemungkinan datangnya sekitar satu jam ke depan. Wah, bakal bablas bergelas-gelas es dawet dong… hehehe.

Es dawet gelas ketiga baru saja bertengger di tangan saya ketika sebuah sepeda motor memasuki halaman masjid. Setelah parkir segera pengendaranya celingak-celinguk seperti mencari-cari seseorang di tengah-tengah ramainya orang di halaman masjid. Ciri-cirinya sih pas dengan data penjemput saya, tapi saya habiskan dululah es dawet ini… sayang. Setelah berputar beberapa kali di sekitar masjid, eeee… tiba-tiba ia menuju motor. Jangan-jangan mau pulang, segera saya berlari dan mencegatnya.

“Mas, temannya Iqbal ya?” tanya saya.
“Mas Kirman ya?” dia malah balik nanya. “Saya Agung”, lanjutnya.

Beberapa saat kemudian saya sudah diboncengan menuju kampus ITS.

Saya hanya sehari di Surabaya, karena tujuan saya sebenarnya adalah ikut acara di Jogjakarta. Besoknya, pagi-pagi sekali saya diantar Iqbal ke sebuah terminal (lupa namanya). Dari terminal itu saya naik bus menuju terminal Bungurasih. Nah, dari Bungurasih inilah nantinya saya naik bus lagi ke Jogjakarta.

Ini adalah pengalaman pertama saya naik bus dari Surabaya menuju Jogjakarta. Di Jogja sudah menanti Mashuri yang akan menjemput saya di terminal. Setiba di Bungurasih saya berjalan mengikuti arus orang berjalan (kayaknya sih menuju ke terminal bus AKAP). Di sebuah lorong ramai calo menanyakan ke mana mas, termasuk seorang calo yang bertanya kepada saya “ke Jogja, mas? Pake bus AC eksekutif”. Wah, boleh juga nih pikir saya, segera ia bawakan tas saya menuju kantor di pinggir terminal. Sesampai di dalam ditunjukkannya daftar ongkos bus menuju Jogja. Saya ambil yang AC eksekutif seharga hampir 80 ribu rupiah. Setelah itu saya diantar oleh seorang yang lain menuju tempat bus mangkal. Namun, kami berhenti agak ke depan terminal tempat bus keluar. Tunggu di sini Pak, katanya, saya cek dulu busnya yang mau berangkat.

Selang beberapa menit ia pun kembali membawa kabar bahwa bus eksekutifnya masih lama baru berangkat, mungkin sekitar satu jam lagi atau lebih tergantung penumpang ada atau tidak. Kalau Bapak tidak ingin tiba malam, ada bus ekonomi yang akan berangkat, sarannya. Saya naik itu sajalah, putus saya. Terus selisih uang saya bagaimana? Selisihnya sedikit Pak, jawabnya, itung-itung tiplah Pak buat saya. Okelah… Sesaat kemudian saya pun sudah di atas bus ekonomi menuju Jogjakarta.

Setelah beberapa jam perjalanan, kondektur mulai jalan menagih ongkos ke penumpang lain. Iseng-iseng saya tanya ongkosnya berapa, jiiaaaa…. ternyata ongkosnya sekitar 30 ribu saja…😦 Lebih banyak tipnya dong daripada ongkosnya. Parahnya lagi, ternyata bus yang saya tumpangi itu cuma sampai Solo. Ampuuuunnnn…. dikerjain benar deh saya. Untungnya di Solo langsung dapat bus menuju Jogja, meskipun harus berdesak-desakan.

Menjelang maghrib saya sudah di boncengan Mashuri menuju kosannya di daerah Wirobrajan. Perjalanan yang mengesankan. Pesan Mashuri, kalau mau naik bus, langsung masuk aja ke terminal. Pilih busnya dan naik, jangan pedulikan calo-calo yang menawarkan jasa di luar….

Itulah kisah saya tertipu calo bus sekitar tahun 2003. Entah sekarang… mungkin sudah lebih tertib… semoga…

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in Nostalgia and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Pengalaman Tertipu Calo Bus

  1. Asaz says:

    memang calo laganya seperti itu mas padahal tanpa calo pun sebetulnya penumpang naik sendiri, sebetulnya kalau tersedia lapangan kerja lain pasti orang tidak akan ada yang mau jadi calo contoh di singapura tidak ada yang jadi calo diterminal

  2. Asop says:

    Ini pelajaran bagi saya.😡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s