Kesibukan di Akhir Ramadhan


Suasana di komplek sudah tampak sepi, maklum sebagian besar tetangga sudah mudik alias pulang kampung. Ada yang ke Jogja, Magelang, Cilacap, dll. Saya sendiri tidak mudik ke Makassar, bukannya tidak ingin. Tapi, tahun ini tercatat sudah tiga kali saya dan keluarga mudik. Lagipula, ibu saya baru saja pulang dan mertua saya pun demikian. Meskipun alasan sebenarnya karena dananya tidak memungkinkan lagi untuk mudik berempat…😦

Lorong komplek

Dulu, semasa kuliah, H-2 begini kalau belum pulang ke kampung telepon atau sms dari Ibu saya bisa masuk bertubi-tubi. Walau dengan pertanyaan yang sama, “kapan pulang?”.  Dari Makassar ke kampung saya memakan waktu 4 – 5 jam perjalanan dengan mobil termasuk sekali berhenti untuk istirahat.  Kendaraan favoritnya adalah Phanter yang pada hari biasa maksimal muat sepuluh penumpang. Kendaraan umum yang lebih besar sebenarnya ada, namun Panther ini lebih banyak dipilih karena waktu tempuhnya bisa lebih cepat sekitar satu jam.

Di hari biasa, Panther jarang penuh penumpang. Bahkan, sopir harus berebutan untuk mengambil penumpang. Namun, di hari menjelang lebaran, penumpanglah yang berebutan dan sopirnya malah jual mahal dan kadang ogah-ogahan. Apalagi jika melihat penumpang bertubuh subur seperti saya. Maklum saja, mobil yang biasanya hanya muat sepuluh dengan formasi  4 – 4 – 2 bisa menjadi 13 – 14 penumpang. Lima di belakang, lima di tengah, dan 3 – 4 di depan. Bisa dibayangkan bagaimana posisi sopirnya, kadang separuh badan berada di luar mobil. Untunglah saya sudah punya langganan, meski harus menderita menjepit penumpang lain… hehehe. Yang penting bisa pulang dan sampai di rumah dengan selamat.

Rumah di kampung

H-2 biasanya orang rumah sudah super sibuk. Mulai dari buat kue yang sudah dimulai beberapa hari sebelumnya, persiapan daun pisang, dan mengupas kelapa. Sedangkan buat burasa’, tumbu’, dan aneka masakan ayam biasanya dilakukan sehari sebelum lebaran. Dan mau tak mau kami semua harus ikut membantu di bawah komando Ibu saya. Pokoknya dua hari terakhir bisa menjadi dua hari paling berat selama ramadhan. Pekerjaan langganan saya adalah membuat tumbu’. Cara bikinnya lumayan mudah tapi menyiksa, tinggal memasukkan ketan yang sudah dibulat-bulatkan sebelumnya ke dalam wadah mirip pipa berdiameter sedang, kemudian ditumbuk atau dipenyet hingga padat. Hasilnya kemudian disusun 4 – 5 tumpuk , dibungkus dengan daun pisang, diikat, dan siap di rebus selama seharian. Ibu saya selalu bilang kita buatnya tidak banyak, tapi menumbuknya tetap saja dari pagi hingga sore. Tangan kanan saya rasanya kaku semua sehabis itu.

Lagi motong-motong daun

Kupas kelapa

Adik-adik saya pun kebagian tugas, ada yang mempersiapkan daun pisang, mengupas kelapa sampai kapalan, mencabut bulu ayam, dll. Pokoknya sibuk banget dah… Tapi, kami semua tetap puasa tentunya.

Selesai shalat ied, kami tidak serta merta bisa membantai semua makanan yang ada karena Ibu saya punya kebiasaan baca doa dulu. Dan sebelum baca doa makanan tersebut tidak bisa diganggu gugat, pamali katanya. Yang baca doa sudah ada orang tertentu di kampung saya dan itu giliran dengan tetangga yang lain. Sampai ke rumah biasanya sudah lewat Duhur. Daripada duduk diam memandangi paha ayam, saya dan adik saya yang laki ikutan ke rumah tetangga yang mendapat giliran lebih dulu. Yang baca doa pindah rumah, kami pun ikut pindah. Giliran baca doa di rumah sudah terkapar kekenyangan. Tapi, biasanya tidak lama. Setelah itu tulang belulang ayam hasil perbuatan adik saya terkapar di mana-mana. Saya sih tidak begitu doyan ayam, tapi yang lainnya saya libas semua… hehehe.

Cabut bulu ayam

Ibu saya tercinta, burasa', dan tumbu' hasil karya saya

Selamat Idul Fitri 1432 H… Mohon maaf lahir dan bathin…

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in Puasa Ramadhan and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Kesibukan di Akhir Ramadhan

  1. aldi says:

    Ass,
    Dibagian mana rumah di laburawung / tanete cappo ? kebetulan saya juga dulu tinggal disitu sampai tahun 1995 , didepan kantor kodim 1423 / samping rumahnya pak anwar lammi, cuma rumahnya sudah dijual. keluarga hijrah semua kemakassar.

    • kirman says:

      Tetanggaki dulu berarti kalo begitu. Saya juga dulu rumahku di depan kodim, di belakang rumahnya Pak Abbas (alm). Saya di situ dari tahun 1991, trus pindah ke belakang kodim sekitar 1995, trus pindah lagi ke sentral… Pindah melulu… Sekarang keluarga sudah di Makassar semua juga.

  2. Asop says:

    Maap lahir batin!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s