Kenangan Puasa di Kos-kosan


Memang enak puasa bareng keluarga, mau makan apa saja saat berbuka pasti dibelikan. Kebetulan, saya suka buka dengan pisang ijo atau pastel. Meskipun jarang yang jualan di Pamulang, namun istri saya sudah tahu tempat untuk beli pisang ijo. Kalau dulu di kampung waktu masih bujang, tinggal bilang, ibu saya pasti membuatkan.

Pengalaman berbeda saya alami waktu ngekos. Sebagai perantau di ibukota yang jauh dari sanak keluarga, kos-kosan itulah yang menjadi andalan. Selama kurang lebih empat tahun ngekos, pengalaman tahun pertama berpuasa sendirian merupakan yang paling berat. Bayangin aja, segalanya mesti saya lakukan sendiri. Mulai dari bangun sahur sendiri hingga berbuka sendiri.

Tempat saya ngekos terdiri dari tiga kamar dengan kamar mandi semua di dalam, dua kamar diisi perempuan dan satunya saya. Pernah suatu malam, ketika sedang asyik tidur, tiba-tiba terdengar suara adzan subuh dari masjid dekat rumah. “Busyet…, gak sahur lagi dong”, pikirku sambil mengambil jam tangan dari atas meja. Lha, baru jam tiga lewat kok sudah adzan? Apa jam saya yang rusak?

Kusambar baju kaos dan memakainya, saya kalau tidur biasanya tidak pakai baju biar adem… hehehe. Belum juga kelar, tiba-tiba ada pengumuman dari masjid, “maaf para warga, saya salah lihat jam”. Jiiiaaaa….

Ibu kos saya sangat perhatian dengan anak-anak kosnya. Hampir setiap sore kami mendapat jatah takjil, ya lumayanlah untuk ukuran anak kos. Kadang dapat korma, biji salak, gorengan, es buah, dll. Selepas buka dan shalat Maghrib barulah ke warung belakang untuk makan malam.

Warung tempat saya makan sebenarnya tidak berbentuk warung, melainkan rumah yang ruang tamunya di sulap sebagai tempat jualan makanan. Di satu sisi ada etalase makanan dan di sisi lain ada sofa untuk makan. Jadi, nuansanya seperti makan di rumah saja, rasanya pun khas makanan rumahan. Sebelum tarwih biasanya sangat ramai, sampai ada yang makan di teras. Untuk melayani pembeli, suami si Ibu biasanya turut membantu. Selain rasanya enak, harga terjangkau, di Ibu ini juga bisa ngutang jadi bayar pas THR turun tidak masalah…🙂

Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya merupakan hari paling lama dan menyiksa selama puasa. Bayangin aja, di kamar cuma ada televisi kecil hitam putih yang kadang mesti dipukul baru gambarnya muncul. Saking kecilnya, hanya cocok ditonton untuk satu orang dari jarak dekat. Jauh dikit, tulisan terjemahannya bakal tidak terbaca. Selain itu, tidak ada hiburan lain. Akhirnya, sepanjang hari hanya diisi dengan tidur dan bangun menjelang buka puasa dengan badan yang rasanya pegal semua.

Kebahagiaan terbesar selain berbuka adalah ketika punya cukup pulsa untuk menelepon keluarga di kampung, meskipun hanya beberapa menit. Atau kirim SMS sekadar ngomong di sana sudah buka ya… di sini belum… Maklum Jakarta dan kampung saya beda satu jam.

Begitulah… sedikit kenangan melaksanakan ibadah puasa selama tinggal di kos-kosan.

 

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in Puasa Ramadhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Kenangan Puasa di Kos-kosan

  1. Asop says:

    Dulu waktu saya masih ngekos, kadang saya udah beli makan untuk sahur pas buka. Saya emang kadang males untuk keluar kosan pas sahur. Jadi pas sahur saya tinggal panasin aja du rice cooker atau di dapur.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s