Puasa di Negeri Ratu Balqis


Hari masih pagi ketika pesawat yang saya tumpangi dari Dubai mendarat di Bandara Internasional di Sana’a ibukota Yaman. Menurut informasi di pesawat tadi baru sekitar pukul sembilan pagi. Baru keluar pesawat udaranya sudah terasa menggigit dinginnya, tapi matahari terik. Sana’a terletak sekitar 2200 meter di atas permukaan laut, makanya udaranya dingin namun tipis. Sehingga, naik tangga ke lantai dua saja sudah ngos-ngosan. Selain itu kelembabannya juga rendah, tidak heran jika masalah utama yang saya hadapi selama di kota ini adalah bibir pecah-pecah akibat kekeringan dan tenggorokan cepat sekali rasanya minta air. Padahal lagi puasa. Kalau tidak ada tugas kantor, kayaknya lebih nyaman puasa di kampung halaman.

Untuk menyiasati masalah bibir pecah-pecah ini, Shaleh, sopir yang biasa mengantar kami sudah membelikan lipglost. Semacam lipstik tapi tidak berwarna untuk melembabkan bibir. Pernah suatu ketika Shaleh salah mengambil satu lipglost yang rupanya memang lipstik dan dipakai oleh seorang teman. Sepanjang pagi Ia menerima tamu dari berbagai perusahaan, tanpa menyadari kalau bibirnya merah merekah. Kehebohan terjadi begitu Ia keluar ruangan dan bertemu dengan yang lain. Pantas saja, semua tamu tadi seperti menahan tawa, katanya.

Di Sana’a ini, jika bulan puasa seperti kota mati mulai dari pagi hingga sore. Keramaian mulai nampak selepas Ashar hingga menjelang sahur. Saya pernah antri di tukang cukur sekitar jam sepuluh malam dan baru kelar dicukur sekitar jam satu malam. Itupun masih ada yang antri setelah saya. Waktu untuk menyelesaikan permintaan saya pun terbilang lama, untuk model rata semua disisakan dua sentimeter menghabiskan hampir satu jam. Padahal, kalau di tukung cukur dekat rumah limabelas menit aja tidak sampai. Mereka juga terbilang perhatian dengan masalah kesehatan. Pisau cukur yang akan dipakai untuk ngerok sebelumnya dibakar dulu dengan bantuan spirtus agar higienis. Rasanya tidak pernah saya melihat hal ini di tukang cukur di Indonesia.

Ada kebiasaan lain yang saya temui, saat makan di restoran biasanya makanan hanya disediakan dalam satu nampan besar. Isinya lengkap nasi, kambing, atau ayam, terus kuah dalam piring kecil terpisah. Satu nampan bisa untuk empat orang. Awalnya ragu juga ketika diajak makan, gimana ya… bukannya takut berebutan, tapi dari mulut terus ke nampan lagi. Malah kadang nasinya diaduk gitu… alamak… Tapi, lama-lama terbiasa juga.

Memang tidak enak puasa di negeri orang, udara lain, makanan tidak cocok, dan yang paling menyiksa adalah jauh dari keluarga. Untungnya kantor masih menanggung nomor handphone lokal, jadi bisa tetap sms-an dengan keluarga. Kalau nelepon gak kuat soalnya, cepat sekali habisnya. Kalau di Yaman model pulsa tidak seperti di Indonesia. Kalau di Indonesia pulsa tetap dalam rupiah, kalau di Yaman hitungannya dalam poin. Jadi, kalau beli pulsa misalnya seribu real di handphone akan masuk sekian poin. Untuk urusan ini semua ditangani Shaleh, maklum bahasa Arab saya pas-pasan cuma bisa Assalamu’alauikum sama syukran…. Hehehe.

Ya… begitulah sedikit cerita saat puasa di Yaman, negerinya Ratu Balqis. Memang sudah agak lama sih, sekitar dua atau tiga tahun lalu namun masih terkenang hingga sekarang.

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in Nostalgia and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s