Bali Story


Pagi ini tiba-tiba saya teringat suatu peristiwa yang menegangkan ketika saya berkunjung ke Bali sekitar pertengahan tahun 2002. Kala itu saya masih menjabat sebagai ketua IHAMAFI (Ikatan Himpunan Mahasiswa Fisika Indonesia). Dalam rangka sosialisasi program kerja, berangkatlah saya ke Bali ditemani oleh Iqbal (Ketua Himafi ITS masa itu). Di Denpasar kami sudah dinanti oleh Qicuk (Ketua Himafi Udayana masa itu juga).

Dengan menumpang KA berangkatlah kami menuju Ketapang, tiketnya waktu itu kalo tak salah 75ribu rupiah sampai di Denpasar. Karena masih ada waktu, di stasiun Iqbal ngajak makan ayam goreng. Awalnya saya tidak mau, tapi karena ditraktir trus sambalnya begitu menggoda akhirnya makan jugalah kami. Hasilnya, sepanjang perjalanan Surabaya ke Ketapang perut saya melilit. Yang saya khawatirkan terjadi juga, kayaknya sambelnya terlalu pedas. Beberapa kali saya berniat buang air di toilet kereta, namun karena airnya mengkhawatirkan saya tunda aja. Rasanya juga masih mampu saya tahan.

Setiba kami di Ketapang, kami langsung dijemput oleh bis KA menuju kapal penyeberangan. Di atas kapal perut saya melilitnya semakin menjadi. Cuman untuk buang air sepertinya tidak mungkin, soalnya toilet kapal cuman ada dua trus antriannya panjang pula. Saya takut nanti yang antri pada kaget, masalahnya kalo melilit begini biasanya jadi mencret dan kalo dikeluarin suaranya bisa kayak senapan mesin tua. Akhirnya buang airnya saya tunda aja kalo udah tiba di pelabuhan Gilimanuk.

Pose bareng teman-teman dari Himafi Udayana di Ubud

Setiba di Gilimanuk ternyata kita langsung dijemput oleh bis KA menuju Denpasar, alhasil buang airnya tertunda lagi. Kali ini melilitnya sudah tidak bisa saya kendalikan lagi, sesekali suara bergemuruh terdengar sayup-sayup dari perut saya. Keringat dinginpun mulai mungucur di dahi, pipi, dll. Saya coba bertahan, perjalanan menuju Denpasar kalau tak salah empat jam. Jalan yang kadang bergelombang menambah penderitaan saya, akhirnya daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh penumpang lain saya putuskan untuk turun aja.

Dengan amat sangat hati-hati saya hampiri Iqbal yang duduk terpisah dari saya. “Bal, lanjutkan perjalanan, saya turun dulu. Jangan lupa ambil tas saya di bagasi, kamu tunggu saya di terminal”, bisik saya ke Iqbal. “Lho, kak Ikus mau ke mana?”. Saya tidak punya banyak waktu lagi untuk menjawab, saya akhirnya minta turun sama sopir bis yang sama bingungnya dengan Iqbal.

Nama kampungnya saya lupa, letaknya sekitar satu jam dari Gilimanuk. Pelan-pelan saya hampiri seorang ibu yang sedang jaga warung. “Permisi Bu, bisa numpang ke toiletnya? saya mau buang air”. Si Ibu agak bingung sebelum menjawab “Di selokan air depan aja Mas, toiletnya tidak ada. Kita semua juga buang di situ kok”. Waduh!!! mana selokan airnya pinggir jalan lagi, tapi karena udah kebelet akhirnya saya turun juga ke selokan itu dan mencari tempat yang agak terlindung.

Baru aja mulai jongkok, eee… ada yang manggil-manggil. “Kak Ikus…. Kak Ikus… lagi ngapain”, rupanya Iqbal juga menyusul turun. Sepeminum teh kemudian, ketika semuanya terasa plong sayapun beranjak meninggalkan selokan air yang berjasa itu. “Bal, kamu kok ikut turun?” tanya saya. “Takut kak Ikus nyasar, kak Ikus kan tidak tahu naik bisa apa ke Denpasar”, jawab Iqbal. “Emang kamu tahu Bal naik bis apa?”. “Gak juga sih”, jawabnya. “Lhaaaaa….. Lagipula saya kan bawa handphone Bal, bisa telepon atau sms ke kamu atau Qicuk”.

Setelah bertanya sana-sini dan menunggu sekitar sepenanak nasi akhirnya dapat juga kami bis menuju Denpasar. Beberapa saat kemudian sms dari Qicuk masuk, “Kus, kamu di mana? penumpang bis KA sudah pada turun tapi kalian kok tak ada?”. Dengan segera saya balas sms-nya, “Ada gangguan teknis, bentar lagi kami sampai. Jangan kabur ya.”

Beberapa jam kemudian saya sudah di atas boncengan motor Qicuk menuju Bukit Jimbaran. Saat-saat menegangkan itu berlalu juga. Akhirnya…..

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in Nostalgia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s