Ied in Yemen : No “Burasa'”, No “Nasu Manu'”


Matahari pagi masih malu-malu menampakkan sinarnya ketika seseorang mengetuk pintu kamarku. Udara dingin membuatku malas bergerak, begitupun dengan teman kamarku, ia masih asyik meringkuk di bawah selimut tebalnya. Ketukan terdengar sekali lagi, mungkin hal yang penting pikirku. Perlahan saya lihat jam tangan yang ada di sampingku, sepintas terlihat tanggal 12. “Astaga” ini kan hari lebaran Idul Fitri. Pasti tadi itu si Rambo, Rambo adalah salah satu crew di bagian laundry yang berasal dari Tanzania.

Mungkin memikirkan hal yang sama, teman kamarku bergegas membuka pintu tapi si pengetuk tak nampak lagi. Saya ambil jaket dan bergegas ke kamar mandi. Setoran dulu terus cuci muka secukupnya. Rencananya crew akan melakukan shalat ied pagi ini. Namun, saya tengok di camp crew kelihatannya sepi-sepi aja. Ternyata mereka melakukan shalat ied di luar camp, dipimpin oleh salah seorang driver yang jadi imam. Baru mau ke kamar untuk siap-siap, ternyata mereka sudah bubaran. Tidak jadi deh ikutan shalat ied.

Akhirnya, saya dan teman-teman tinggal salam-salaman aja. “Minal aidin wal waidzin” ucap saya pada beberapa crew. Beberapa ada yang menjawab “Minal aidin”, ada juga yang menjawab “Ied mubarak”. Ada juga yang bertanya “Moslem?”, saya jawab “Naam” yang disambut kata “Alhamdulillah” sama mereka. Mungkin dipikirnya saya Cina juga (maklum kontraktornya dari Cina).  Kalau perawakan sih mungkin, tapi warna kulit sangat tidak memungkinkan…🙂

Setelah itu, saya ke kantor, sepi rasanya. Kalau di kampung, habis shalat begini pasti Etta sudah sibuk di rumah menyiapkan segala sesuatunya untuk baca doa. “Suka, baki’nya simpan di possi bola“, “Jus, gelasnya diisi air”, “Suki, nasu manu’nya di angkat dari kompor”, aturnya pada kami-kami. Terkadang juga ada teriakan “Jus, ayamnya jangan dimakan dulu, pemmali, nanti kalau sudah baca doa baru boleh”, teriak Etta pada adik saya yang suka mencolek paha ayam yang belum dibaca. “Ah, jadi kangen rumah, kangen Etta, kangen istri saya, kangen adik-adik, kangen suasana lebaran di kampung”.

Habis baca doa pasti saya akan terbaring kekenyangan, sikat sana sikat sini. Karena belum sarapan saya ke ruang makan, ternyata sudah tak ada apa-apa. Maklum, waktu sarapan di sini dari jam 5 sampai jam 6 pagi, habis itu wassalam. Pilihan terakhir makan mie, untungnya teman sekamar saya bawa mie instant 2 dus dari Indonesia. Jadilah Indomie itu menjadi santapan istimewa saya di hari raya Idul Fitri ini.

Kalau di kampung, pasti istri saya akan memasakkan sesuatu yang istimewa. Lebaran ini adalah lebaran kami yang pertama setelah menikah. Tapi, karena ada kerjaan tidak jadilah kami berlebaran bersama.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Minal Aidin Wal Faidzin. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Ied Mubarak.
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in Desert Operation. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s