Project Runway


Project Runway, sebuah acara reality show designer di JakTV, telah berakhir dan menghasilkan Chloe sebagai pemenang. Awalnya secara tidak sengaja nonton acara ini, ternyata menarik juga. Meskipun saya tidak termasuk orang yang mengikuti trend mode, namun ada hal lain yang membuat saya tertarik.

Saya tidak begitu tertarik dengan design-design yang dihasilkan. Ketertarikan saya lebih pada kreativitas para pesertanya (yang tentu saja designer). Bagaimana mereka menghadapi sebuah tantangan, bagaimana mereka menghadapi tekanan akibat keterbatasan waktu, juga bagaimana mereke bekerja secara mandiri untuk menghasilkan sebuah karya.

Hingga terakhir yang tersisa tinggal tiga orang peserta yaitu Daniel, Santino, dan Chloe. Daniel ini beberapa kali memenangkan tantangan untuk hasil designnya. Santino selalu menghasilkan design yang lain daripada yang lain, sering mendapatkan kritik tajam dari juri. Sedangkan Chloe cukup ulet dan pantang menyerah (menurut saya lo ya). Ketiga orang inilah yang berlaga di babak akhir, yaitu babak koleksi. Mereka diberi dana dan waktu yang cukup untuk menghasilkan beberapa karya.

Kejadian menarik terjadi di babak akhir ini. Santino yang biasanya selalu tampil lain daripada yang lain, pada babak ini memilih tampil dengan design yang aman-aman saja (menurut para juri). Komentar yang bagus dikeluarkan oleh salah satu juri tetap, dia mengatakan “Jangan-jangan kita telah mengalahkannya dengan kritik-kritik kita.” Kritik, jika tidak disampaikan dengan baik akan fatal akibatnya. Bisa mematikan kreatifitas, seperti yang mungkin dialami oleh Santino. Karena selalu dikritik akhirnya dia memilih tampil biasa saja, akhirnya dia malah kalah.

Kejadian seperti ini banyak kita jumpai di kehidupan sehari-hari, bahkan di lingkungan pendidikan kita. Tidak jarang guru dengan entengnya mengatakan “kamu bodoh” kepada muridnya tanpa memikirkan dampaknya. Memang bisa saja muridnya jadi rajin belajar supaya tidak dikatakan bodoh lagi. Tapi, tidak jarang banyak murid yang jadi minder, tidak berani tampil, akibat kritikan seperti ini.

Di keluarga pun kadang hal seperti ini terjadi. Sering ada orang tua yang berkata “Begini saja kamu tidak bisa, coba lihat si A atau si B, atau si C, sampai si Z“. Mungkin maksudnya supaya si anak lebih berusaha lagi supaya bisa, tapi tak jarang yang terjadi malah sebaliknya.

Jadi, marilah kita belajar menyampaikan kritik secara baik. Agar orang yang kita kritik bisa menjadi lebih baik, bukannya jadi terpuruk.

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in RupaRupa. Bookmark the permalink.

8 Responses to Project Runway

  1. rusle says:

    betul, jangan sampai kritik membuat kita bungkam…
    pemahaman ttg kritik yang membangun harusnya kita tanamkan sejak dini, supaya anak2 kita tidak perlu minder ketika menerima kritik, bahkan seharusnya menjadi pemicu untuk lebih baik….!

    satu lagi, si pengkritik juga harus punya standar etika, tidak serta merta melampiaskan kritik tapi ndak punya solusi, hanya karena dia memiliki beda pandangan lantas mengkritik. itu mentransfer kebodohan namanya.

    salam kenal.

  2. kirman says:

    Salam kenal juga🙂

  3. rara says:

    cuma mau bilang…
    salam kenal yaaaaa!!!

    hehehe selamat bergabung di komunitas blogger makassar🙂 semoga betah yaaaa😉

  4. rusle says:

    bu RT,
    manami barisan penyerbu nya, kok tidak ada yg muncul…
    masa cuman komandan kompi saja yang menyerbu sendirian…kasian dunk…lawan bisa dengan mudah menggempur sampai lunglai..hehhee

    maaf daeng Kirman, OOT nih

  5. Ifool says:

    numpang kasih komen di’..

    klo menurut sy, kritikan mmg harus dilemparkan sesuai kondisi penerima..ada org yg justru termotivasi setelah dikritik dng “tajam”, misalnya dikritik ” halah..kamu itu, masak begitu saja ndak bisa..”, tapi banyak juga orang yg justru jadi melempem karena kritikan kyk gitu..

    krna di postingan bicara ttg reality show, sy jd ingat sm si Delon “Indonesian Idol 1”, sepanjang babak spektakuler dia terus dikritik, tp trnyata dia mmg bermental baja, sampe akhirnya kritikan itu bisa dia rubah jd pemicu semangat dan tampil “menggila” di akhir babak (hehehe..terbuka deh kedokku klo sy ternyata sk ikuti Indonesian Idol, tp duluji skrg ndakmi..). jadi mmg tergantung penerima kritik jg ya..

    eh, salam kenal..lupa, harusnya salam dulu..hehehe…

  6. na says:

    iyah
    saya pernah ngalamin waktu smp dulu
    ada seorang guru yang selalu bilang begini ke seorang teman:
    “masa soal begitu saja nda bisa ko kerja”
    trus di kasi berdiri di depan kelas
    ….
    bukan nya memicu semangat belajar
    teman ku itu malah brenti sekolah

    btw, met kenal ya🙂

  7. Adink says:

    lapor komandan rusle..

    sudah meka menyerbu. adaka di villa yuliana🙂

    ….

    kok kayak-kayak di shoutbox ini ya… :))

  8. meqro says:

    hal kritik !

    itu namanya sejauh mana mental seseorang diuji alias hidup itu keras,jangan cengeng……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s