Apakah Refraction Static Selalu Memberi Hasil Lebih Baik?


Pada suatu pagi yang cerah, teman saya (tentunya cewek)😀 sms ke saya. Isinya begini :

“Mas…. apakah refraction static selalu memberi hasil yang lebih baik dibandingkan elevation static?”  

Kalau menurut pengalaman saya sih, memang demikian. Hasil stacking refraction static selalu lebih baik bila dibandingkan jika menggunakan elevation static. Untuk mendapatkan second opinion pertanyaan ini saya forward ke milis HAGI dan berikut ini tanggapannya.

 Pak Ecep menulis :

Penurunan statik refraksi dari perhitungan refracted arrival time disebut koreksi statik refraksi. Koreksi ini didasarkan pada asumsi bahwa refraktor yang akan dianalisa mendefinisikan problem statik. Dengan kata lain semua problem statik disebabkan oleh kondisi dekat permukaan.

Tahapan yang biasa dilakukan dalam koreksi satatik refraksi,meliputi :
1. ekstraksi informasi compressional velocity dan time-depth
2. konversi time-depth dan velocity model reflektor
3. perhitungan statik dari model reflektor.

Sedikit pengalaman saya bahwa “tidak selamanya” statik refraksi memberikan hasil yang lebih memuaskan dari statik lapangan.

Pak Cholik (IMC Geophysics International Limited) menambahkan :

Dari yang saya tahu (cmiiw), seyogyanya sesuatu yang telah terkoreksi bisa menjadi lebih baik. Tentunya juga bisa mendapatkan alasan kenapa harus dilakukan refraction statics. Banyak hal yang mempengaruhi dalam penentuan refraction statics, bagaimana kualitas ditentukan saat picking, lmo, analysis layer, weathering dan refractor velocity, penentuan model, perhitungan statics, dll.

Pak Ancha (Pertamina dan mantan Ketua HAGI) menjawab :

Saya ingat seorang expert pernah bilang kunci berhasil atau tidaknya data processing adalah penentuan statik dan analisa kecepatan. Uniknya lagi bahwa kita tidak pernah dilarang untuk melakukan perhitungan statik dan analisa kecepatan berpuluh-puluh kali dalam satu flow processing, karena tidak akan merusak data (residual static excluding). Elevation statik dan refraction statik pada dasarnya sama hanya berbeda pada kompleksitas penentuan kecepatan dekat permukaan dan distribusinya. Refraction statik lebih mahal karena perlu waktu untuk picking first break dan pembuatan model perlapisan dekat permukaan, sementara elevation statik lebih simpel karena hanya perlu kecepatan yang didapat dari uphole time dan harganya biasanya sudah didapat dari lapangan jadi tinggal dikoreksi saja.

Hasilnya?? kata orang “ada uang ada barang”, secara teori refraction statik harus lebih baik, tapi kalau kita amati dan bergelut sehari-hari dengan data yang berbeda-beda (seperti pak Ecep) tidak selalu refraction statik lebih baik dari elevation statik.

Kenyataannya hampir benar untuk semua processing tool; yang canggih belum tentu menghasilkan yang lebih baik. Semua sangat tergantung pada kondisi data, kondisi geologi, dan lain-lain. Intinya adalah kita harus lakukan investigasi jenis-jenis proses apa yang eflektif untuk suatu kondisi data dan merangkainya dalam suatu workflow untuk mendapatkan hasil akhir yang benar.

Processing Module is a technology, Processing Workflow is an art!

About Kirman

Seorang Geophysicist dan Blogger. Jika tidak sedang menghabiskan waktu luang dengan Fika dan Rayyan, Ia suka menulis di KirmanSyam.com dan MasterPresentasi.com.
This entry was posted in Geoscience. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s