
Ilustrasi Terminal Bus
Matahari sedang terik-teriknya ketika kapal PELNI yang kutumpangi merapat di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Setelah sukses melewati desak-desakan penumpang, akhirnya sampai juga di darat. Tapi, Iqbal belum juga menjawab SMS yang saya kirim beberapa saat sebelum merapat. Jangan-jangan dia tidak bisa menjemput karena lagi sibuk, padahal saya tidak tahu mesti naik apa dari pelabuhan ke kampus ITS Sukolilo.
Taksi memang ada, namun itu tentu bukan pilihan menarik buat mahasiswa seperti saya dengan ongkos jalan pas-pasan. Untungnya ada masjid tidak jauh dari pelabuhan, ke sanalah kaki saya melangkah. Tidak lupa SMS kembali saya layangkan ke Iqbal untuk menyampaikan kedatangan saya. Ransel besar di pundak yang makin lama makin berat saja rasanya saya letakkan begitu saja di teras masjid dan langsung memesan satu gelas es dawet.
Belum selesai es dawet pesanan saya Iqbal menelepon, mengabarkan kalau ia baru saja membaca SMS saya dan tidak bisa menjemput karena sedang persiapan untuk acara wisudanya minggu depan. Tapi, ada temannya yang bisa menjemput. Tanda-tandanya ia akan memakai jaket himpunan berwarna biru. ETA alias kemungkinan datangnya sekitar satu jam ke depan. Wah, bakal bablas bergelas-gelas es dawet dong… hehehe.
Read more…
01. Ericsson T10

Ini adalah HP pertamaku, sekitar tahun 2001. Belinya 250rb seken, tapi beterainya sudah ngedrop waktu itu. Pantas saja waktu saya tes selalu dicolokin ke listrik. Akhirnya beli beterai baru lagi, harganya sudah lupa.
02. Nokia 3210
Bosan dengan T10, akhirnya saya jual sama teman kampus 200 ribu. Trus, beli Nokia 3210 seken. Harganya sudah lupa.
Read more…
Apa yang saya tuliskan berikut ini adalah pengalaman saat-saat pertama dalam hidup saya yang kalau dikenang-kenang ternyata lucu juga.
Pertama kali menikmati listrik
Saya lahir di kampung, sekitar 200 km dari Makassar. Waktu lahir, listrik belum masuk di kampung saya. Mungkin gara-gara itu kulit saya jadi gelap… hehehe. Listrik ada ketika saya SD, kalau bukan kelas 1 ya 2. Saya masih ingat setiap pulang sekolah selalu menonton pekerja PLN memasang tiang, kabel, dll. Bahkan, ada beberapa barang yang akan dipasang dititipkan di halaman rumah saya. Lama setelah itu barulah instalasi di rumah saya juga dipasang. Waktu pertama kali listrik menyala, kami semalam suntuk menyalakan mini compo yang sebelumnya pakai baterai.
Read more…
Hari Sabtu yang lalu baca artikel tentang Pos, tiba-tiba teringat masa-masa SMU dulu. Waktu itu sekitar tahun 1994. Handphone dan social media belum ada. Andalan untuk komunikasi adalah melalui surat yang dikirm melalui pos.
Saya termasuk orang yang gemar surat menyurat, bahkan berlangganan majalah sahabat pena dan memiliki sahabat pena hampir di seluruh Indonesia. Selain itu, saya juga suka mengoleksi perangko dan masuk anggota perkumpulan Filatelis di kampung.
Waktu itu, koperasi sekolah saya kerjasama dengan pos. Setiap hari ada petugas yang selalu datang ke sekolah untuk mengecek dan mengambil jika ada yng ingin mengirim surat. Jadi, tidak perlu repot ke kantor pos. Cukup di koperasi sekolah saja, di situ sudah tersedia perangko.
Read more…
Hari masih pagi ketika pesawat yang saya tumpangi dari Dubai mendarat di Bandara Internasional di Sana’a ibukota Yaman. Menurut informasi di pesawat tadi baru sekitar pukul sembilan pagi. Baru keluar pesawat udaranya sudah terasa menggigit dinginnya, tapi matahari terik. Sana’a terletak sekitar 2200 meter di atas permukaan laut, makanya udaranya dingin namun tipis. Sehingga, naik tangga ke lantai dua saja sudah ngos-ngosan. Selain itu kelembabannya juga rendah, tidak heran jika masalah utama yang saya hadapi selama di kota ini adalah bibir pecah-pecah akibat kekeringan dan tenggorokan cepat sekali rasanya minta air. Padahal lagi puasa. Kalau tidak ada tugas kantor, kayaknya lebih nyaman puasa di kampung halaman.
Untuk menyiasati masalah bibir pecah-pecah ini, Shaleh, sopir yang biasa mengantar kami sudah membelikan lipglost. Semacam lipstik tapi tidak berwarna untuk melembabkan bibir. Pernah suatu ketika Shaleh salah mengambil satu lipglost yang rupanya memang lipstik dan dipakai oleh seorang teman. Sepanjang pagi Ia menerima tamu dari berbagai perusahaan, tanpa menyadari kalau bibirnya merah merekah. Kehebohan terjadi begitu Ia keluar ruangan dan bertemu dengan yang lain. Pantas saja, semua tamu tadi seperti menahan tawa, katanya.
Read more…
Ini kejadian lama, sekitar taun 2006. Waktu itu Catherine Wilson berkunjung ke kosan saya di Cilandak. Fotonya ketemu tadi secara tak sengaja di blog lama saya di boleh.com. Padahal itu blog udah lama gak saya buka, ternyata passwordnya masih ketemu juga setelah try and error beberapa kali.

Pagi ini tiba-tiba saya teringat suatu peristiwa yang menegangkan ketika saya berkunjung ke Bali sekitar pertengahan tahun 2002. Kala itu saya masih menjabat sebagai ketua IHAMAFI (Ikatan Himpunan Mahasiswa Fisika Indonesia). Dalam rangka sosialisasi program kerja, berangkatlah saya ke Bali ditemani oleh Iqbal (Ketua Himafi ITS masa itu). Di Denpasar kami sudah dinanti oleh Qicuk (Ketua Himafi Udayana masa itu juga).
Dengan menumpang KA berangkatlah kami menuju Ketapang, tiketnya waktu itu kalo tak salah 75ribu rupiah sampai di Denpasar. Karena masih ada waktu, di stasiun Iqbal ngajak makan ayam goreng. Awalnya saya tidak mau, tapi karena ditraktir trus sambalnya begitu menggoda akhirnya makan jugalah kami. Hasilnya, sepanjang perjalanan Surabaya ke Ketapang perut saya melilit. Yang saya khawatirkan terjadi juga, kayaknya sambelnya terlalu pedas. Beberapa kali saya berniat buang air di toilet kereta, namun karena airnya mengkhawatirkan saya tunda aja. Rasanya juga masih mampu saya tahan.
Setiba kami di Ketapang, kami langsung dijemput oleh bis KA menuju kapal penyeberangan. Di atas kapal perut saya melilitnya semakin menjadi. Cuman untuk buang air sepertinya tidak mungkin, soalnya toilet kapal cuman ada dua trus antriannya panjang pula. Saya takut nanti yang antri pada kaget, masalahnya kalo melilit begini biasanya jadi mencret dan kalo dikeluarin suaranya bisa kayak senapan mesin tua. Akhirnya buang airnya saya tunda aja kalo udah tiba di pelabuhan Gilimanuk.

Pose bareng teman-teman dari Himafi Udayana di Ubud
Read more…
Recent Comments